Pada tanggal 31 Juli, Charoen Laothamatas, Presiden Asosiasi Eksportir Beras Thailand, menyatakan bahwa industri beras negara tersebut mendapat manfaat dari peningkatan permintaan dari Indonesia untuk menjaga ketahanan pangan.
![]() |
Thailand mengekspor 1,2 juta ton beras pada bulan Juni, meningkat 78,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (Sumber: Bangkok Post) |
Ekspor beras pada semester pertama tahun ini mencapai US$3,30 miliar (118,67 miliar Baht), dengan bulan Juni saja menyumbang US$644 juta (23,16 miliar Baht).
Pak Charoen menghubungkan peningkatan ekspor pada bulan Juni dengan kebijakan ketahanan pangan pemerintah Indonesia. Namun, prospek ekspor beras Thailand pada paruh kedua tahun ini masih belum pasti, karena industri ini akan sangat terdampak jika India mencabut larangan ekspor beras putih dan memasuki pasar beras global.
Menurut Charoen, prospek jangka pendek industri beras Thailand tetap suram karena harga. Bangkok harus mengatasi hal ini dengan meningkatkan produktivitas, menghasilkan lebih banyak pendapatan bagi petani, dan meningkatkan daya saing.
Ketua Asosiasi Eksportir Beras Thailand mengemukakan masalah ini: "Beras Thailand masih lebih mahal daripada beras dari negara-negara tetangga. Misalnya, beras dari Vietnam sekitar $30/ton lebih murah daripada beras Thailand. Perbedaan ini disebabkan oleh Bangkok yang hanya memproduksi 400 kg beras per rai, dibandingkan dengan 900 kg per rai di Vietnam."
Meskipun permintaan beras meningkat, Bapak Charoen memperkirakan bahwa permintaan akan melambat karena peningkatan hasil panen berkat curah hujan yang tinggi. Beliau berharap Thailand akan mengekspor 7,5 juta ton beras tahun ini sesuai rencana.
Menurut Kementerian Perdagangan Thailand, Indonesia berencana mengimpor 3,6 juta ton beras tahun ini, terutama dari Thailand dan Vietnam. Badan Logistik Nasional Indonesia (Bulog) telah membuka tender impor beras sekitar 300.000 ton per bulan. Bulog memperkirakan Jakarta akan mengimpor 1,5 juta ton beras Thailand tahun ini, membantu negara mencapai target tahun 2024.
Departemen Pertanian AS memproyeksikan produksi beras global pada tahun 2024-2025 mencapai 528,17 juta ton, meningkat 1,4% dari 520,87 juta ton pada tahun 2023-2024.
Kementerian memperkirakan ekspor beras dari India, Kamboja, Brasil, Uruguay, Paraguay, Argentina, Uni Eropa (UE), Australia, dan Amerika Serikat akan meningkat. Namun, ekspor dari Thailand, Vietnam, Pakistan, Myanmar, Tiongkok, Guyana, dan Turki diperkirakan akan menurun.
Sumber: https://baoquocte.vn/gao-thai-lan-huong-loi-nho-chinh-sach-moi-tu-indonesia-280970.html








