Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Israel Benjamin Netanyahu pada 11 Agustus, Kanselir Jerman Olaf Scholz menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya konflik regional di Gaza. Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi juga menyatakan dukungannya untuk Teheran.
![]() |
| Warga Palestina mengamati kejadian setelah serangan udara Israel terhadap sebuah sekolah tempat para pengungsi berlindung di tengah meningkatnya konflik di Gaza. (Sumber: Reuters) |
Juru bicara pemerintah Jerman Wolfgang Buchner mengutip Kanselir Scholz yang menekankan bahwa "sekaranglah waktunya untuk menyelesaikan kesepakatan tentang pembebasan sandera dan gencatan senjata."
Pemimpin Jerman itu mencatat bahwa "mengakhiri konflik di Gaza akan menjadi langkah penting menuju de-eskalasi ketegangan di Timur Tengah."
Selain itu, Perdana Menteri Scholz juga menyampaikan keprihatinannya kepada Netanyahu bahwa meskipun Israel telah mencapai banyak tujuan militer dalam perang melawan gerakan Islam Hamas, korban jiwa di kalangan warga sipil dan penderitaan rakyat di Gaza masih sangat besar.
Sementara itu, pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Wang Yi telah berbicara melalui telepon dengan Pelaksana Tugas Menteri Luar Negeri Iran Ali Bagheri Kani, menegaskan dukungan Beijing untuk Teheran dalam upaya melindungi "kedaulatan, keamanan, dan martabat nasionalnya."
Selama percakapan telepon tersebut, Wang Yi menegaskan kembali sikap China yang mengutuk pembunuhan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran pada 31 Juli, dengan menyatakan bahwa tindakan tersebut melanggar kedaulatan Iran dan mengancam stabilitas regional.
Menurut Menteri Luar Negeri Tiongkok, pembunuhan pemimpin Haniyeh telah "secara langsung merusak negosiasi gencatan senjata di Gaza serta perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut."
Ia menekankan: "China mendukung Iran dalam upayanya untuk melindungi kedaulatan, keamanan, dan martabat nasionalnya sesuai dengan hukum internasional, serta upaya Iran untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan ini, dan siap untuk menjaga kontak erat dengan Iran."
Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menunjuk Abbas Araqchi sebagai Menteri Luar Negeri negara tersebut. Araqchi menjabat sebagai kepala negosiator Iran dalam perundingan nuklir dari tahun 2013 hingga 2021.
Sumber: https://baoquocte.vn/chao-lua-trung-dong-duc-mach-ke-ha-nhiet-cang-thang-trung-quoc-khang-dinh-dung-ve-phia-iran-282247.html








